Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H

•Oktober 4, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dalam pergaulan sehari-hari tentu tidak luput dari perkataan dan erbuatan yang kurang berkenan di hati teman-teman, karena itu, melalui web ini saya ucapkan MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN SEMOGA AMAL IBADAH KITA DITRIMA OLEH ALLAH

Peran dan Tugas Guru: Sebuah Wacana Menuju Profesionalisme Guru

•April 25, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ella Agustina dan Syaharuddin

Jika saja kita mau membuka lembaran-lembaran beberapa buku, jurnal, majalah, buletin koran yang bertema tentang pendidikan, maka di antaranya akan kita akan temukan beberapa tema tentang peran dan tugas guru. Mungkin karena menarik, sehingga tema ini tampaknya selalu diulang-ulang oleh beberapa para pakar, penulis, dan pemerhati pendidikan lainnya.

Suatu waktu, di depan para guru-guru (peserta sebuah Diklat) saya mencoba melontarkan beberapa peran dan tugas guru. Saya katakan begini, seorang guru seharusnya jangan menggunakan LKS buatan penerbit, tapi harus membuat sendiri yang yang telah diramu dari berbagai sumber/referensi/pustaka. LKS dari penerbit ya bolehlah sebagai contoh dan pembanding saja. Spontan jawaban yang terdengar, “ wah repot pak !”. Jawabannya memang aneh tapi itulah faktanya yang saya alami.

Apa sebenarnya peran dan tugas guru?, tulisan ini mencoba menguraikan hal itu dengan berbagai kekurangan dan kelemahannya. Pertama sebagai pendidik. Yaitu mengembangkan kepribadian dan membina budi pekerti pesera didik; Kedua sebagai pengajar yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan, melatih keterampilan, memberikan panduan atau petunjuk; panduan antara memberikan pengetahuan, bimbingan dan keterampilan; merancang pengajaran; melaksanakan pembelajaran; menilai aktivitas pembelajaran. Ketiga sebagai fasilitator. Yaitu memotivasi siswa, membantu siswa, membimbing siswa dalam proses pembelajaran di dalam dan luar kelas, menggunakan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai, menggunakan pertanyaan yang merangsang siswa untuk belajar, menyediakan bahan pengajaran, mendorong siswa untuk mencari bahan ajar, menggunakan ganjaran dan hukuman sebagai alat pendidikan, meujudkan disiplin;

Keempat sebagai pembimbing. Yaitu memberikan petunjuk atau bimbingan atau bimbingan tentang gaya pembelajaran siswa, mencari kelemahan dan kekuatan siswa, memberikan latihan, memberikan penghargaan kepada siswa, mengenal permasalahan yang dihadapi siswa dan menemukan pemecahannya, membantu siswa untuk menemukan bakat dan minatnya (karier dimasa depan), mengenali perbedaan individu siswa. Kelima sebagai pelayan. Yaitu memberikan layanan pembelajaran yang nyaman dan aman sesuai dengan perbedaan individual siswa, menyediakan fasilitas pembelajaran dari sekuru seolah, seperti ruang belajar, meja-kursi, papan tulis, almari, alat peraga dan papan pengumuman,; memberikanlayanan sumber belajar; Keenam sebagai perancang. yaitu menyusun program pengajaran dan pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku, menyusun rencana mengajar; menentkan strategi dan metode pembelajaran sesuai dengan konsep PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan); Ketujuh sebaga pengelola. Yaitu melaksanakan administrasi kelas, presensi, memilih strategi dan metode pembelajaran yang efektif. Ketujuh sebagai inovator. Yaitu menemukan strategi dan metode mengajar yang efektif; meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam penggunaan strategi dan metode mengajar; mau mencoba dan menerapkan strategi dan metode pembelajaran yang baru; Kedelapan sebagai penilai. Yaitu menyusun tes dan instrument penilaian lain, melaksanakan penilaian terhadap siswa secara objektif; mengadakan pembelajaran remedial; mengadakan pengayaaan dalam pembelajran.

Wright (1987) sebagaimana dikutip oleh Robiah Sidin, dalam bukunya bertajuk “Classroom Management “ (1993:8), menyatakan bahwa guru memiliki dua peran utama, yakni pertama, the management role atau peran manajemen, yaitu mengetahui latar belakang siswa, sosial, ekonomi dan intelektual aka memiliki pengetauan, terampilan, dan profesional; bertanggung jawab; disiplin, dan produktif; menghargai dan kasih sayang terhadap siswa; memiliki nilai-nilai moral, prinsip kemanusiaan dalam semua langkahnya; Memiliki sikap inovatif, kreatif, dan memahami perbedaan dan individualitas di kalangan siswa; menjadi contoh model bagi siswa, apa yang dikatakan itulah yang dilakukan; menghargai dan peduli terhadap lingkungan serta memahami perkembangan dan penerapan iptek dalam kehidupan modern; Mengetahui perbedaan individu siswa, potensi dan kelemahan siswa, termasuk gaya pebelajaran mereka.

Kedua, the instructional role atau peran instruksional. Di samping itu guru juga berfungsi sebagai (1) pembimbing siswa dalam memecahkan kesulitan dalam pembelajaran, (2) sebagai sumber yang dapat membantu memecahkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa atau untuk menemukan jawaban atau memperoleh informasi lanjutan, dan (3) penilai hasil belajar, untuk menentukan perkembangan hasil belajara siswa, serta untuk menentukan nilai siswa (Suparlan, 2006: 39-40).

Salah satu dari sekian banyak dampak ketika tidak terlaksananya peran dan fungsi guru secara maksimal misalnya, tidak terbinanya akhlak dan moral siswa. Beberapa kebiasaan buruk siswa seperti tidak berlaku disiplin dari berbagai peraturan yang telah disepakati bersama, malas, kurang berlaku sopan dan sebagainya, hal itu berarti tugas guru sebagai pendidik belum maksimal. Tugas mengajar mungkin sudah terlaksana dengan baik, tapi tugas mendidik? Karena itu, beberapa peran dan tugas guru di atas merupakan sebuah keharusan untuk diimplementasikan walaupun memerlukan pemikiran dan pengorbanan yang lebih banyak. Dengan cara ini barangkali barulah guru dapat dikatakan sebagai sebuah profesi, dimana guru mampu memberikan solusi terbaik dari berbagai masalah yang dialami kliennya.

Hubungannya dengan sertifikasi guru, yaitu dengan adanya peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru maka beberapa peran dan tugas guru yang telah diuraikan di atas kemungkinan dapat diimplementasikan. Apa pasal? Dulu, salah satu alasan guru tidak mampu melaksanakan peran dan tugasnya secara masimal karena persoalan kurangnya pendapatan/gaji. Maka dengan kebijakan baru pemerintah yakni sertifikasi guru, maka harapan kita ke depan guru mau dan mampu memaksimalkan peran dan tugasnya.

IT Untuk Peningkatan Mutu Pendidikan

•Februari 20, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Suaidillah,S.Pd. dan Ella Agustina, S.Pd.*
Seorang teman pernah bercerita bahwa di beberapa lembaga pendidikan di pulau Jawa, informsi dan teknologinya (IT) sudah sangat maju. Misalnya penerapan IT di lingkungan kampus, sekolah dan kantor-kantor pemerintah. Intinya, dengan penerapan IT maka beberapa pekerjaan manual para guru dapat digantikan dengan computer, berbagai informasi tentang pendidikan dengan mudah dapat di akses, begitu pula dengan penyerapan ilmu pengetahuan dapat diserap karena tersedianya fasilitas internet gratis dan beberapa titik daerah hotspot free untuk akses ke dunia maya.

Di UGM misalnya, seperti informasi yang saya dapatkan, untuk mencari buku atau referensi yang diperlukan dalam rangka menyelesaikan tugas-tugas kuliah sejak dari S1 sampai S3, maka mahasiswanya tidak perlu lagi mengunjungi semua perpustakaan di lingkungan UGM, tapi cukup satu saja yang didalamnya sudah tercantum judul buku untuk semua fakultas dan perpustakaan yang ada di lingkungan UGM. Misalnya, perpustakaan UPT I, perpustakaan UPT II, Perpustakaan Pascasarjana, Perpustakaan Kajian Pedesaan, dan semua perpustakaan di fakultas.

Begitu pula pula dengan fasilitas internet –baik yang gratis dan non gratis– dan daerah hotspot, selalu tersedia dimana-mana. Untuk internet gratis, dapat diakses hampir semua fakultas di UGM. Sedangkan daerah hotspot dapat ditemukan di gedung pascasarjana, di sekitar lingkungan fakultas MIPA, Teknik, Perpustakaan UPT I, dan Perpustakaan Pascasarjana, yang semua itu dapat dikases dengan gratis. Kalaupun menggunakan password, maka password tersebut diumumkan tidak dirahasiakan. Misalnya, jika anda kebetulan ingin mengakses di gedung pascasarjana UGM maka passwordnya cukup ketik “AMARTAPURA”, maka dengan secara langsung dapat online dengan begitu cepat bila tidak ada gangguan.
Akan halnya dengan administrasi perkantoran di lingkungan UGM, juga dapat dirasakan begitu cepatnya informasi didapatkan. Jika seorang mahasiswa menginginkan KHS, maka data itu bisa didapatkan tanpa menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari, tapi dalam hitungan menit KHS tersebut sudah dapat diterima, tanpa berbelit-belit, karena memang data dan informasinya sudah lengkap dan memiliki kode-kode atau symbol tertentu untuk hal-hal tertentu juga, sehingga ketika seseorang membutuhkan informasi maka dapat begitu cepat ditemukan.

Lain di UGM lain pula di SMP Negeri 5 Yogyakarta. Sebuah sekolah tervaforit dan sangat maju dalam hal IT. Misalnya, seorang guru hendak mengadakan ulangan. Maka, ia tak perlu menggandakan soal, lalu mengawasi di dalam kelas, kemudian mengoreksinya setelah usai ulangan dilaksanakan. Karena dengan IT maka semua soal sudah di format sedemikian rupa dalam sebuah komputer pada sebuah ruangan yang jumlahnya sebanyak murid yang ada dalam kelas. Intinya, dengan IT mempermudah pekerjaan guru, karena tidak perlu mengeluarkan uang untuk penggandaan soal, dan mengoreksinya setelah usai ulangan. Artinya, pekerjaan guru dapat lebih efektif. Sehingga sisa waktu itu bisa digunakan untuk yang lain. Misalnya guru dapat melakukan tulis menulis atau bahkan melakukan PTK.

Dua contoh di atas, saya pikir cukuplah sebagai sebuah pendorong, pembangkit motivasi untuk meningkatkan penggunaan IT di sekolah dan lembaga pendidikan baik di Dinas Pendidikan maupun di LPMP Kalsel untuk peningkatan mutu pendidikan agar kita tidak jauh tertinggal dengan daerah lain.

Saat ini bukan lagi era batu kapur, tapi sudah beralih ke LCD, sehingga peserta didik dapat menikmati materi pelajaran dengan menarik, karena akan tampil dengan memukau, ditambah dengan berbagai gambar dan warna serta suara. Bukan lagi masanya mengoreksi soal dan menghitung nilai dengan manual, tapi dapat dilakukan dengan komputer. Sehingga pekerjaan guru dapat lebih mudah dilakukan dan lebih efektif serta efisien. Hal-hal tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil dilakukan karena hampir di beberapa daerah sudah merealisasikannya. Kalau kita sejak sekarang tidak pernah mau berkaca, berguru dengan daerah lain, maka daerah kita dalam waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan jangan harap dapat memahami dan menjalankan IT dengan baik, artinya kita selalu yang terbelakang. Kata bunyi sebuah enekdot, “orang lain sudah sampai ke planet tapi kita masih saja mondar-mandir di bumi” alias tidak ada kemajuan.
Sebagai penutup uraian ini, beberapa hal penting perlu dilakukan yaitu perlunya berguru ke negeri orang untuk pengembangan IT baik di sekolah maupun di lembaga-lembaga pendidikan seperti dinas pendidikan kabupatan kota serta provinsi dan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP). Sehingga ke depan kedua lembaga ini dapat menyediakan data dan informasi tentang keadaan pendidikan di Kalimantan Selatan. Baik yang menyangkut masalah keadaan guru, murid, prestasi, sarana dan prasarana, hasil UNAS dan Ujian Sekolah, grafik prestasi siswa semua tingkatan, dan sebagainya. Berdasarkan data dan informasi tersebut, maka kita sebagai orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan akan dapat mengambil langkah-langkah efektif untuk meningkatkan mutu pendidikan khusus di Kalimantan Selatan, sebaliknya kita tidak lagi melakukan triar and error, meraba-raba, mengira-ngira dan sebagainya. Di samping memudahkan bagi masyarakat yang ingin mengetahui hal itu juga berguna untuk keperluan penelitian bagi mahasiswa, dosen dan para pendidik lainnya. Karena mereka tidak perlu ke sekolah-sekolah untuk mencatat dan mengumpulkan berbagai bahan yang berkenaan dengan penelitiannya, tapi cukup datang ke dinas pendidikan kabupaten kota dan LPMP semua sudah ada di sana, apalagi dapat diakses lewat web dinas pendidikan atau LPMP maka tentu akan lebih mudah.

Namun perlu diingat bahwa data yang tersedia di Dinas Pendidikan dan LPMP itu tidak begitu saja dapat diakses dengan mudah, karena kedua lembaga ini harus terlebih dahulu melakukan berbagai aktivitas. Misalnya, menjalankan program pemetaan sekolah, guru, murid se kalsel, mengadakan uji kompetensi untuk mengetahui tingkat mutu dan kualitas guru dan kepala sekolah, begitu pula dengan sarana dan parasarananya. Nah setelah semua pekerjaan tersebut selesai barulah dapat diolah dan dimasukkan dalam sebuah program di komputer sehingga dapat diakses denga mudah dan cepat.
Begitulah impian saya, yang entah abad ke berapa dapat tergapai. Tapi saya yakin, dengan bermimpi maka suatu saat ia akan jadi kenyataan. Tapi kalau kita tidak pernah bermimpi mungkin hal itu tidak akan pernah kita dapatkan.

Penulis adalah Kepala dan Staf Seksi Pemetaan dan Supervisi LPMP Kalsel dan

Sertifikasi: Antara Profesionalisme Guru dan Kesejahteraan Guru

•Februari 18, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Tahapan pelaksanaan Sertifikasi Guru sudah  mendekati final.  Beberapa tahapan telah dilalui. Sejak dari proses penilaian portofolio sampai pelatihan bagi yang tidak mencukupi persyaratan alias belum lulus. Sementara itu,  bagi mereka yang telah lulus, maka bersiap-siap menerima sertifikat yang konsekuensinya akan berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan angka-angka pada daftar gaji.  Di sisi lain mereka dituntut agar lebih profesional.

Berbagai pernyataan dan pertanyaan tentang sertifikasi bermunculan. Mulai yang memuji sampai yang mengkritik pemerintah. Pujian yang diberikan yakni tampaknya pemerintah mulai sadar akan arti pendidikan. Pendidikan sebagai investasi tampaknya sudah mulai “meracuni” hati dan pikiran para pemegang kebijakan. Mereka seolah-olah sadar benar bahwa bangsa ini hanya bisa bersaing dan bersanding dengan bangsa-bangsa lain di dunia jika SDM Indonesia bermutu. Dan, salah satu pilar penting untuk meningkatkan SDM tersebut adalah dengan pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu hanya akan dapat dicapai jika proses pendidikan yang dilaksanakan memenuhi standar minimal, misalnya persoalan kelengkapan fasilitas pembelajaran siswa (adanya laboratorium –IPA, IPS, dan Bahasa–, perpustakaan, sarana olah raga, dan sebagainya),  kemudian kualitas guru, kesejahteraan guru, manajemen, peran stakeholder, dan lain-lain. Kesemua hal di atas, dan tentunya beberapa hal lain yang belum disebutkan, diyakini akan dapat mendongkrak mutu pendidikan di Indonesia, jika benar-benar dijalankan.

Bagi yang mengkritik, tampaknya mereka ragu akan niat pemerintah yang mulai care dengan dunia pendidikan. Misalnya, ketika UU Guru dan Dosen digulirkan dan sampai pada tahap pengesahan, maka beberapa pernyataan yang berhubungan dengan sertifikasi guru mulai bermunculan. Ada yang menilai bahwa sertifikasi justru tidak  ”bernurani”. Apa pasal, coba saja bayangkan beberapa hal kriteria yang diinginkan oleh sertifikasi adalah di antaranya mereka harus S1, kemudian mengajar minimal 24 jam pelajaran, dan seterusnya. Kedua persyaratan ini saja dan tentunya beberapa aturan lainnya dianggap sangat tidak bernurani. Jika saja ada lembaga survey atau LSM yang mau meneliti berapa sebenarnya jumlah guru, sejak tingkat TK/MA sampai SMA/MA yang belum memiliki ijasah S1, maka mungkin akan ditemukan jumlah yang sangat signifikan secara kuantitas.

                Beberapa guru –yang belum berstrata S1 dan tampakya tidak mungkin mengikuti studi lanjut–yang sempat penulis temui dan berdiskusi seputar masalah sertifikasi maka jawaban ditemukan sangat bervariatif. Di antaranya,  mereka pasrah akan kenyataan yang mesti mereka terima. Mereka rela tidak dapat menerima fasilitas gaji tambahan dan berbagai fasilitas lainnya dari pemerintah karena terhalang oleh berbagai persyaratan. Ada juga yang berani nekad, mereka tetap melanjutkan ke strata S1 walaupun ia telah berumur lanjut. Padahal, jika dihitung-hitung saat ia lulus, usia sudah mendekati pensiun. Untunglah jika setelah gelar S1 dicapai dan  saat penilaian portofolio dinyatakan lulus dan dapat menerima fasilitas dari pemerintah sebagaimana yang telah dijanjikan –seperti yang tertera pada UU Guru dan Dosen–, namun jika tidak, maka usahanya untuk mendapatkan sertifikat dapat dikatakan gagal total, dan perjuangannya sungguh tak mendapat penghargaan dari pemerintah. Padahal mereka telah mengabdi sekian puluh tahun, tanpa pamrih pula. Ya…memang guru pahlawan tanpa tanda jasa, sehingga penghargaan yang semestinya ia terima tidak layak sebagamana jasanya, namun mereka tetap ikhlas, dan  semangat mengabdi tetap bercokol dalam hatinya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Inilah kiranya, sehingga penulis anggap bahwa sertifikasi –dalam hal ini pemerintah—memang tidak bernurani.    

                Kemudian persyaratan mengajar minimal 24 jam per minggu, juga tidak realistis. Di samping itu aturan ini seakan-akan ada gejala bahwa sepertinya pemerintah tidak ikhlas memberikan fasilitas dan tunjangan tambahan itu, sehingga guru diberi beban mengajar yang begitu banyak. Padahal tugas guru itu tidak hanya mengajar dan mendidik, tapi juga terlibat dalam pembuatan soal, koreksi soal, pengawasan ulangan, remedial, dan bimbingan bagi guru pembina kegiatan siswa.

Isu pengunduran diri penerima sertifikat guru

Wah….hebat juga tuh, ketika orang-orang pada berharap mendapatkan sertifikat eh….justru ada  seorang guru justru mengundurkan diri sebagai penerima sertifikat. Dari hasil perbincangan yang hanya beberapa menit berlangsung, ia mengungkapkan bahwa alasan pengunduran diri sebagai yang menerima sertifikasi dikarenakan belum pantas sebagai penerima sertifikat professional. Yang dia ungkapkan pertama adalah ia “merasa” tidak mampu untuk lebih profesional setelah menerima sertifikat  guru. Bayangkan saja, setelah menerima sertifikat maka  ia harus mengajar minimal 24 jam per minggu. Belum lagi ia harus menjadi teladan di tempat kerjanya, karena ia adalah seorang profesional. Ia harus lebih disiplin –khususnya menepati jadwal ngajar—karena walau bagaimanapun ia adalah seorang yang profesional yang sudah seharusnya bersikap disiplin pada setiap aktivitas, belum lagi masalah sosial, misalnya kecemburuan sosial –karena ia telah menerima pendapatan lebih, maka ia harus Kerja lebih juga jika dibanding guru yang belum mendapat tunjangan tambahan, dan seterusnya.

                Isu pengunduran diri ini cukup menarik untuk dibincangkan lebih lanjut. Hal ini sangat berkaitan dengan praktik pelaksanaan pasca menerima serifikat bagi  guru ke depan. Seorang guru yang telah menerima sertifikat plus tunjangan tambahannya itu, maka sangat wajar ia bersikap lebih profesional. Dalam hal proses belajar mengajar misalnya, maka ia senantiasa mengevaluasi dirinya. Sejauhmana keberhasilan yang dicapai. Jika belum memperlihatkan peningkatan –dengan ukuran prestasi siswa—maka ia harus mencari strategi dan metode serta model mengajar lain  untuk diterapkan pada siswa saat mengajar di kelas.  Apakah telah terjadi perubahan sikap orientasi siswa dan guru terhadap arti sebuah proses pendidikan yang sedang ia jalankan? Menjadi sesuatu hal penting untuk dibincangkan agar pendidikan Indonesia ke depan dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas intelektual(IQ) saja akan tetapi juga di dukung dengan dua kecerdasan lainnya, yakni kecerdasan emosional (EQ) dan spiritual (SQ).

                Sebagai penutup tulisan ini, penulis berharap agar sertifikasi guru bisa dijadikan pecut, sebagai pemicu semangat dalam setiap proses belajar-mengajar di sekolah serta lebih profesional lagi.  Bertambahnya tunjangan pendapatan sebagai konsekuensi dari sebuah aturan baru, sebaiknya tidak membuat kita “terlena”,   tapi justru menjadi sebagai motivator yang mampu membangkitkan gairah mencerdaskan anak bangsa ini dan tentunya akan lebih profesionalisme lagi.

Penulis adalah Pelajar  Sekolah Pascasarjana UNLAM, dan Staf LPMP Kalsel Seksi Pemetaan dan Supervisi email:ella_kalsel@yahoo.co.id dan website:elagustina.wordpress.com

Sekretariat POKJA Banjarbaru bergiat

•Januari 31, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hari sabtu tanggal 26 januari 08 kita tim sekretariat pokja berkumpul dari jam 9 pagi menunggu kawan2 yang mengentri data menyerahkan hasil entri-an, sambil pelan-pelan kami input. Tidak terasa waktu sudah menunjukan jam 12 siang, ah… saya pikir 1/2 jam lagi selesai ternyata hingga jam 13.00 belum kelar juga. Sedangkan perut sudah terasa menggigit para oragan2 diperut sudah memerintahkan ke otak kalau harus segera dimasukkan sesuatu ke dalam perut. Ternyata bukan saya saja yang merasa hungry, my friend juga ternyata merasakan hal sama. Saya ingat biasanya jam 1 an begini mie ayam yang biasa mangkal didepan kantor sudah ada. Pergilah saya ke depan ternyata belum ada, gak habis pikir saya titip pesan ke pa satpam kalo mie ayamnya sudah ada tolong suruh masuk ke dalam. Tidak berapa lama datanglah mie ayam yang ditunggu-tunggu, dan kami langsung memesan. Alhamdullilah sudah kenyang dan otak sudah bisa dibawa untuk bekerja menginput data sarana prasarana dan data individual guru se kota banjarbaru. Hingga tak terasa jam 3 sore sudah … ah pulang saja, besok senin baru di lanjutkan. good by.

Guru, Yang Ditiru dan Digugu

•Desember 24, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ella Agustina

Tak sengaja, ketika saya membenahi rak buku yang sudah lama tidak disentuh, tiba-tiba terbaca tulisan DR. Wahyu MS, tentang isu kesenjangan pendidikan. Ada yang menarik dari tulisan itu, yakni tentang kualitas tenaga pengajar yang notabene sebagian besar adalah produk FKIP UNLAM. Di antara kesimpulan beliau adalah mengungkapkan bahwa jika kita menginginkan pendidikan yang berkualitas tentunya harus dimulai dari pendidik yang berkualitas, walaupun dengan dana milyaran rupiah, program yang di gojlok dengan menghabiskan dana berapa pun tidak akan berhasil kalau tidak membenahi kualitas pendidik itu sendiri.

Untuk melihat kualitas guru atau pendidik, maka salah satu aspek penting yang dapat dijadikan barometer adalah keberhasilan Ujian Nasional (UN). UN yang sebelumnya hanya diberlakukan pada tingkat sekolah menengah dan atas sekarang mulai tahun 2007 sekolah dasar pun akan diperlakukan sama dengan sekolah menengah dan atas –walaupun dibeberapa daerah terdapat kontroversi. Apakah UN akan berhasil? Apalagi dengan mata pelajaran yang di UN-kan bertambah jumlahnya. Berhasil atau tidaknya UN maka sangatlah berpengaruh terhadap kualitas gurunya.

Berbagai pihak seperti LPMP dan Dinas Pendidikan Provinsi sudah sering melakukan pelatihan sebagai usaha peningkatan mutu pendidik. Tidak jarang pelatihan dan penataran selalu dilakukan guna mendongkrak mutu dan kualitas guru. Kadang waktu dan biaya sangat banyak diperlukan untuk itu. Namun, kadang lagu lama sering muncul, “aku masih seperti yang dulu”, bahwa seorang guru yang telah diberikan materi tambahan, baik berupa pendalaman materi, model-model pembelajaran, metode-metode baru dan sebagainya, tampak tidak berpengaruh terhadap proses belajar mengajar di sekolah. Kadang berbagai alasan pun muncul bila hal itu dipertanyakan, misalnya ilmu yang didapat tidak atau belum relevan dengan kondisi di lapangan, materi tidak bisa diaplikasikan karena sistem dan sarana tidak mendukung dan lain sebagainya.

Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia, maka pemerintah senantiasa melakukan perbaikan kurikulum. Sudah beberapa kali terjadi gonta-ganti kurikulum dan kebijakan-kebijakan dalam dunia pendidikan tetap saja tidak mampu meningkatkan pendidikan. Lalu muncul pertanyaan, apa penyebab kegagalan tersebut? Di antara jawaban dari beberapa jawaban yang muncul adalah kurangnya pemahaman guru terhadap kurikulum baru. Walaupun sebenarnya usaha pemerintah dalam hal itu melalui berbagai kegiatan seperti diklat, penataran dan lain-lain, dan tentunya telah menghabiskan waktu dan biaya yang tidak sedikit telah dilakukan.
Sertifikasi Menyejukan yang Perlu Kejujuran.

Permendiknas Nomor 18 Tahun 2007 menyatakan, bahwa sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi dalam bentuk penilaian portofolio. Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya/prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. Sebagian guru, merasa senang dengan adanya sertifikasi karena akan menjanjikan peningkatan kesejahteraan mereka. Akan tetapi di antara guru-guru lain juga menyadari tanggung jawab yang dipikul setelah mendapatkan sertifikasi. Bagi guru yang menginginkan sertifikat profesi untuk mencapai peningkatan kesejahteraan tapi tidak pernah dipanggil mengikuti diklat maka akan berusaha mencari cara agar dapat memenuhi komponen tersebut walaupun itu dengan jalan yang kurang berkenan.

Penulis pernah berbincang-bincang dengan seorang guru yang telah lulus sertifikasi, bahwa ada seorang guru yang datang ke rumahnya untuk meminjam sertifikat milik istrinya, dengan maksud untuk difotocopy. Hal demikian mungkin terjadi bukan hanya disatu tempat saja tetapi mungkin dibeberapa tempat lainnya. Perlu disadari, bahwa sikap jujur merupakan salah satu kesuksesan dalam pelaksanaan sertifikasi ini agar tidak mencoreng niat baik pemerintah untuk meningkatkan harkat dan martabat guru. Apabila terjadi kecurangan yang terdapat pada dokumen portofolio dikemudian hari baru ditemukan tetapi guru tersebut terlanjur diberikan sertifikat profesinya tindakan pencabutan sertifikat dan pengembalian gaji profesi atau hukumkah yang diberikan kepada guru? Yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana tim penilai portofolio bekerja. Sanggupkah mengeliminir etika buruk guru ketika terjadi pemalsuan dokumen prestasi atau dokumen kinerjanya. Nah….kalau yang satu ini kuncinya pada tim asesor yang terhormat. Selamat bekerja.
Guru Tokoh yang di Gugu dan di Tiru

Didalam UU No 14 Pasal 20 dengan tegas menjabarkan guru yang profesional adalah guru yang merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; meningkatkan dan mengembangankan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni; bertindak obyektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran; menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, kode etik guru serta nilai-nilai agama dan etika; dan memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Guru yang ideal adalah guru yang digambarkan oleh UU di atas. Apakah guru yang ideal yang digambarkan itu dapat menjadi kenyataan? Inilah yang menjadi pertanyaan besar kita bersama. Satu-satunya harapan kita adalah adanya sertifikasi guru, maka apa yang diharapkan dapat kita capai bersama. Artinya, sertifikat dapat dijadikan sebagai barometer keberhasilan sebuah proses pendidikan. Namun jika tidak sebagaimana yang dicita-citakan bersama maka pupuslah harapan kita semua. Berarti juga bahwa sertifikasi guru tidak berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kualitas guru.

Maka jelaslah di sini bahwa, bagi guru yang telah mendapatkan sertifikat profesi tersebut menjadi beban karena guru harus mampu sebagai panutan bagi guru-guru yang lain, peserta didik dan bagi masyarakat. Sebagai seorang guru yang telah mendapatkan sertifikat profesi tentunya sudah melalui tahapan penilaian yang dilakukan oleh LPTK yang terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah.

Sebagai penutup dari tulisan ini, maka ada beberapa benang merah yang perlu kita perhatikan. Pertama, peningkatan kualitas dan mutu guru atau pendidik adalah mutlak adanya. Keberhasilan UN akan datang akan sangat berpengaruh terhadap bagaimana menyampaikan materi, bagaimana menggunakan berbagai media pembelajaran untuk meningkatkan daya serap peserta didik terhadap materi yang diajarkan, memahami materi-materi (sesuai kurikulum) untuk disampaikan kepada peserta didik, dan seterusnya. Kedua, sertifikasi yang telah berjalan ini jangan dinodai dengan berbagai kebohongan-kebohongan dan ketidakjujuran. Apalah arti sebuah sertifikat jika didapat dengan tidak benar. Guru yang seharusnya ditiru dan digugu secara tidak langsung luntur karena hanya sebuah sertifikat yang diperoleh dengan tidak jujur.

Penulis adalah staf LPMP Kalsel dan Mantan Guru SMP Negeri I Tanjung, SMP Negeri 6 Banjarbaru dan MTs An Nuriyah Banjarmasin, Email: ella_kalsel@yahoo.com, website:www.elagustin.wordpress.com, anggota KP. EWA’MCo.

Staf LPMP melanjutkan S2

•Desember 18, 2007 • 1 Komentar

Tidak dapat disangkal, bahwa bekerja di LPMP, tampak S2 merupakan sebuah keharusan. Manalah mungkin kita meningkatkan mutu pendidikan Kalsel kalau staf LPMP saja masih harus ditingkatkan pula. Jadi, mari beramai-ramai ke S2, tapi tugas utama tetap menjadi prioritas, kan cuma izin belajar, bukan tugas belajar….ya gak……!?